Rasulullah, Contoh Enterpreneur Sejati!!

Enterpreneurship Rasulullah

Oleh Aa Gym

Ternyata dalam kajian Rasulullah, ada masa hidup beliau yang kurang kita bahas yaitu bagaimana Muhammad menjadi menjadi profesional. Rasulullah sebagai bukti bahwa dengan memiliki jiwa enterpreneur maka orang akan mampu mengendalikan apa saja.

Usia 6 tahun beliau sudah yatim piatu dan tidak punya pegangan. Sampai usia 8 tahun 2 bulan kakek yang membina dan mendidiknya wafat, setelah itu ia dalam perlingungan pamannya Abu Thalib yang tidak sekaya kakeknya, mulai saat itulah pemuda kecil Muhammad menggembala kambing, mencari nafkah sendiri.

Bayangkan umur 12 tahun, Rasul sudah diajak pamannya berdagang ke Syiria yang jaraknya ribuan kilometer. Sepulang dari perjalanan itu, beliau sering bisnis bahkan sampai ke seluruh Jazirah Arab sudah terkenal seorang profesional muda bernama Muhammad. Subhanallah, ketika meminang Siti Khadijah beliau memberi mas kawin sebesar dua puluh ekor unta muda atau hampir setengah miliar rupiah.

Mulailah tanamkan jiwa enterpreneur pada anak-anak kita. Mempersiapkan keturunan kita juga merupakan tanggung jawab kita kepada umat ke depan. Didik anak-anak kita dari kecil, buat jadi mandiri, bebas, berani bertanggung jawab supaya dia percaya diri.

Para kaum muda, bertekadlah mulai sekarang kalau saya lulus sekolah saya ingin membuat pekerjaan sendiri, tidak perlu melamar kemanapun. Hikmahnya, yang pertama adalah hati-hati dengan masa kecil. Para mahasiswa sebaiknya sambil kuliah sambil cari nafkah. Pengalaman harus sudah dirintis. Kedua, nabi Muhammad sebelum diangkat sebagai nabi tidak punya apa-apa setelah itu dapat menjadi orang kaya tanpa modal. Karena modal yang beliau punyai adalah Al Amin yaitu orang yang kredibel (dipercaya). Mulai sekarang kita harus buat catatan langkah untuk menjadi orang terpercaya dalam kehidupan kita.

Tiap kita itu sudah ditentukan rizkinya. Rizki dapat dibagi menjadi tiga macam, pertama adalah rizki yang sudah dijamin pasti ada yaitu makan. Yang harus kita takuti adalah makan makanan yang kita tidak tahu halal dan haramnya.

Rizki yang kedua adalah rezeki yang digantungkan. Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, sampai kaum itu merubah nasibnya sendiri. Bekerja keras itu urusan fisik, bekerja cerdas itu urusan otak dan bekerja ikhlas itu urusan hati. Kalau ketiganya berjalan baru ketemu.

Rezeki yang ketiga adalah rezeki yang dijanjikan. Kita harus jatahkan setiap mendapatkannya harus langsung dikeluarkan sedekah atau zakatnya. Tidak akan berkurang harta dengan sedekah, kecuali bertambah dan bertambah.

Orang mau apa saja “jujurlah” kuncinya. Begitulah sifat nabi Muhammad SAW Jadi jangan takut tidak punya uang tapi takutlah tidak barokah. Rasulullah ternyata orang yang cakap dalam pekerjaannya dan orientasinya memberikan kepuasan. Karunia Allah itu tidak identik dengan uang tapi identik dengan kemuliaan setiap saat. Yang pasti tidak pernah rugi orang yang selalu dalam kejujuran dan kebaikan.

Dalam Islam kita itu untung kalau berhasil menguntungkan sebanyak mungkin orang. Jangan mengukur keuntungan lewat uang. Jangan ukur kesuksessan dengan uang. Kesukessan adalah ketika kita punya ilmu, pengalaman, nama baik dan menjadi barokah. Uang itu bonus dari Allah dan kecil artinya.

Jiwa enterpreneurship itu tergantung dari kredibilitas dan faktor kreativitas yang berani melakukan hal-hal baru. Orang-orang yang kreatif itu adalah orang yang selalu belajar setiap saat. Jadi setiap kita punya uang jangan sampai menempel di hati. Setiap kita punya uang harus diinvestasikan untuk mencari ilmu, penambah wawasan, dan modal untuk beramal.

Saudara-saudara sekalian, Rasulullah itu zuhud padahal di dalam genggamannya, hasilnya jadi mulia. Dengan tiga rumus ini yaitu satu jujur dan terpercaya, dua cakap, dan tiga memuaskan, maka pilihannya kita harus maju terus pantang mundur sampai ajal menjemput kita. Insya Allah.

Biar banyak yang mendoakan

Kamis kemarin mengikuti diskusi singkat dengan salah satu dosen ITB yang nyambi bisnis. Ceritanya kami ingin ngambil ruangan kantor beliau, karena beliau perlu space yang lebih leluasa dan lebih mudah terjangkau untuk bengkelnya. Yang menarik, beliau ini sepertinya punya filosofi agar anak-anak muda yang pernah ikutan beliau tidak boleh terlalu lama jadi staf. Jadi kalau sudah 3-4 tahunan boleh bikin bisnis sendiri, tapi masih di dalam kelompok tersebut.

Istilah beliau: BIAR LEBIH BANYAK YANG MENDOAKAN

Saya suka pendekatan seperti ini, tidak ada dalam konsep enterpreneurship yang lazim. Tapi kalau ditelaah lebih mendalam, kita akan mendapatkannya di Islam. Ada beberapa hadits yang semakna atau setidaknya bisa menjadi nilai dasar dari konsep di atas:

  • Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya
  • Kalau ada seorang beriman mendoakan kebaikan bagi saudaranya dan saudaranya tidak mengetahui bahwa dia didoakan oleh orang pertama tadi, maka ketika selesai berdoa malaikat meng-aminkan seraya berdoa juga: wa’alaikum (demikian pula untukmu)

Jadi semakin banyak berbagi bukan berarti semakin rugi, tapi semakin banyak keuntungan. Kalau membuat perusahaan, filosofi ini bisa ditiru. Ada salah satu perusahaan distribusi alat medikal (pernah ditayangkan di program bisnis syariah Metro TV saat ramadhan) yang mensharing sahamnya kepada seluruh karyawan dengan nilai yang cukup besar. Kondisi keuangan perusahaan tsb disharing secara transparan. Dan ternyata perusahaan itu dapat berkembang dengan sangat-sangat pesat.

Filosofi enterpreneurship

Dalam satu training enterpreneurship di Daarut Tauhiid beberapa tahun lalu, Aa Gym dalam salah satu sesinya menjelaskan cara pandang beliau tentang kriteria sukses berbinis secara islami:

Niatnya benar untuk beribadah,

Dilakukan secara profesional dan memegang akhlaqul karimah,

Menunaikan kewajiban berbagi kepada yang berhak setelah mendapatkannya.

Jadi itulah rejeki buat seorang muslim. Jadi rejeki itu tak sekedar kita dapat keuntungan dari bisnis kita. Berniat lurus  dan mengejar dengan tetap memegang nilai-nilai adalah rejeki juga. Dan sebenarnya yang kita infaqkan untuk berbagi setelah kita mendapatkan keuntungan dari berbisnis, itulah rejeki yang hakiki. Jadi ada dimensi tauhid, profesionalisme dan sosial dalam berbisnis itu.

Dasar dari seluruh cara pandang ini adalah logika tauhid dalam satu ayat Al Qur’an, bahwa rejeki itu urusan Allah, urusan manusia adalah berikhtiar secara benar. Dalam satu ayat dijelaskan: “Dan barangsiapa bertakwa, AKU jadikan buat dia makhraja (Jalan keluar dari berbagai kesulitan), dan AKU rejekikan kepadanya dari arah yang tak disangka-sangka”.

Berbisnis di kultur timur dan melayu seperti Indonesia kata banyak orang tak terlepas dari lobi. Banyak yang bilang lobi lebih penting dibandingkan profesionalisme. Benarkah? Kalau secara faktual seperti itu, berarti ada yang salah dalam tata sosial kita. Kalau lobi di atas segalanya, maka kualitas pekerjaan jadi nomor dua, dan praktik-praktik tak normal seperti KKN adalah konsekuensi logis dari norma yang sudah tak normal ini.

Kalau seorang Goethe saja bisa mewariskan kata mutiaranya: “Selalu banyak keajaiban setelah langkah pertama”, dalam perspekti filosofi bisnis seperti di atas “keajaiban-keajaiban” itu adalah sebuah makhraja dan rejeki tak disangka-sangka. Tapi itu ada tiketnya, yaitu ikhtiar. Ikhtiar itu tak sekedar berusaha, ikhtiar yg optimal itu tak bisa tidak harus disertai atribut profesionalisme. Marketing tetap penting, itu bagian dari profesionalisme, termasuk juga lobi. Tapi di sini jadinya lobi bukan segalanya. Saya yakin ada rahasia besar di balik seluruh rejeki yang kita terima, yaitu hikmah Allah. Allah Maha Tahu, apa yang kita sangka baik buat kita belum tentu baik menurut Allah buat kita, atau sebaliknya. Selama ikhtiar kita lurus dan sampai titik optimal, cukuplah tawakal sesudahnya, dan setelah itu hikmah Allah akan memilihkan yang terbaik buat kita.

Gampang menuliskannya, setengah mati melaksanakannya. Semoga kita bisa tetap lurus…

Bisnis dan Politik

Sebuah perusahaan suatu saat mendapatkan “pesanan” lewat seorang pejabat kementrian BUMN yang notabene anggota pimpinan sebuah Partai X. “Pesanan” tersebut menggunakan teori IT dan bisnis yang kira-kira seperti ini: “Sistem informasi dapat meningkatkan kinerja bisnis perusahaan. Enterprise Information System akan dapat meningkatkan efisiensi manajemen, menciptakan transparansi dan memudahkan pengambilan keputusan eksekutif”. Singkat kata, dibuatlah MOU antara perusahaan tadi dengan sebuah perusahaan IT Solution Provider, yang  di belakangnya berdiri pejabat dan jaringan Partai X.

Perlu waktu hampir tiga tahun untuk menyelesaikan solusi yang dijanjikan, melalui berbagai proses bongkar pasang tak karuan. Dari sekitar 40 unit kerja yang ada, hanya segelintir kecil (< 10%) unit kerja yang menerima, itu pun yang diterima hanya modul2 tertentu. Di akhir kontrak, bahkan seorang pejabat di perusahaan solusi tadi bahkan sempat membuat fitnah yg kira-kira begini: “Bagaimana ini Pak A, berita acara tidak ditanda tangani sampai sekarang. Padahal uang sudah diterima!”. Pak A tadi adalah manajer TI perusahaan klien tadi. Pak A berang bukan main, karena dia tak pernah minta dan dikasih uang sogokan itu. Singkat kata orang itu dipecat dari perusahaan solusi tadi. Anehnya, baru-baru ini dia kembali lagi sebagai presenter (ikut rombongan satu kementrian juga), presentasi tentang Enterprise Information System. Hahaha……

****

Dalam kasus di atas, pejabat dan Partai X tadi adalah pecundang yang sesungguhnya. Si perusahaan solusi tadi mustahil jadi perusahaan yang punya kekuatan bersaing, mustahil jadi perusahaan besar. Pasti.. pasti tinggal tunggu waktu saja perusahaan itu gulung tikar. Secara logis ini dapat dijelaskan dengan teori sederhana tentang profesionalisme: perusahaan solusi tadi menempatkan lobi (halal haram tak pandang bulu), di atas kredibilitas profesional. Kalau pakai kacamata syariah, tak mungkin barang haram tadi membuat suatu bangunan bisnis yang beranak pinak, karena tak mungkin tumbuh dan berlipat harta yang berasal dari barang haram. Na’uzubillah min dzalik….

Menurut teori Aa Gym, berbisnis itu harus bersih di tiga tahap:

  1. Niat harus benar
  2. Dilakukan dengan bersih dan profesional
  3. Menunaikan hak pihak-pihak dari yang dihasilkan, terutama memperbanyak berbagi

Orientasi hasil hanya 1 dari 3 ladang amal, dan ternyata dari fungsi waktu, proses menjalani untuk mendapatkan hasil-lah (poin ke-2) yang paling lama. Kesabaran, ikhtiar dengan profesionalisme dan ketawakalan adalah kunci di situ. Soal hasil, biar Allah yang tentukan, karena Dia paling tahu dimana rejeki kita. Yang diwajibkan ke kita adalah berikhtiar maksimal dan setelah itu bertawakal.

Kembali ke Politik dan Bisnis,

Walaupun tak bisa disangkal keduanya saling berkelindan, politik adalah keniscayaan. Politik itu seharusnya memperjuangkan agar lingkungan bisnis bisa kondusif melalui penerbitan kebijakan-kebijakan publik yang mendukung. Kalau berpolitik hanya biar bisa dapat akses ke kantong-kantong keuangan publik dan bisnis yang dimiliki negara, itulah politikus-politikus yang tak pantas duduk di lembaga-lembaga perwakilan rakyat, lha wong yang diurus cuma perutnya sendiri.

Keajaiban langkah pertama

Salah satu yang patut dikagumi dari para enterpreneur yang berhasil adalah KEBERANIANNYA MENGAMBIL LANGKAH PERTAMA. Hambatan terbesar di awal-awal membuat start-up katanya bukanlah modal atau kemampuan, tapi keberanian. Ini terutama berlaku untuk bidang yang relatif tak punya pengalaman di dalamnya.

Itulah mengapa seringkali sistem kapitalis itu tak adil, karena selalu melihat share kepemilikan dengan metrik finansial. Keberanian dan risiko start-up itu susah dikuantifikasi. Saya lebih suka pakai cara penghitungan syariah untuk start-up ini, lebih adil dan menentramkan semua pihak shareholder.

Kunci pertama start-up itu ya langkah pertama. Seringkali terlalu banyak mikir itu malah membuat tak bergerak. Dalam perspektif tauhid, sebenarnya keajaiban langkah pertama itu lebih tepat dinamakan dengan terbukanya kunci-kunci pertolongan Allah. Bentuknya bisa bermacam-macam: mengenal proses produksi semakin detail, mendapatkan siklus produksi yang paling efisien, dapat tempat bahan baku yang paling bersaing, dapat chanel distribusi, sampai dengan berhasil meluncurkan produksi pertama. Dengan modal yang terbatas, rasanya lega sekali bisa menyelesaikan satu siklus awal. Artinya, dapat ilmu baru dan dapat pemasukan pertama untuk menggulirkan siklus-siklus berikutnya.

Tetap fokus pada proses produksi dan distribusi, sambil tetap memperkuat Competitive Advantage: kekuatan desain dan inovasi tiada henti.

Kiat Bisnis Haji Ma’shoem

Kira-kira 2 bulan yang lalu saya dapat buku biografi Haji Ma’shoem, dari kantor yayasan almarhum di Jl. Rancaekek Bandung. Buku-buku seperti ini termasuk buku yg paling saya suka, karena memberikan pelajaran bisnis praktis dan sudah terbukti. Belajar dari pengalaman orang-orang yang berhasil, apalagi dengan mengetahui sisi-sisi kehidupannya lebih banyak, katanya akan banyak mengispirasi.

Haji Ma’shoem (dilahirkan dengan nama Dajoen di daerah Ciawi – Tasikmalaya, mendapat nama Ma’shoem (terpelihara) dari seorang kyai yang akhirnya mengambil dia jadi menantunya) memang berangkat dari nol, dari menyewa sepetak rumah di pinggiran jalan rancaekek sebelum jaman jepang, sampai dengan sekarang menggurita ke berbagai bidang. Kalau Anda melalui jalan2 ke arah Bandung dari garut, tasik, purwakarta, dsk akan menemukan banyak sekali pom bensin Ma’shoem. Di pinggir Jl. Raya Rancaekek, Anda juga bisa menemui kompleks pendidikan terpadu, pesantren, bank syariah, dan berbagai unit bisnis almarhum.

Ketika meninggal, barisan panjang beberapa kilometer dari rumah beliau ke masjid menjadi jalur estafet ribuan orang-orang yang ingin menyentuh dan menghormati beliau. Kalaulah beliau bukan orang yang patut ditiru dan dihormati, tak akan mungkinlah ribuan hti orang tergerakkan untuk memperlakukan beliau seperti itu. Di tengah arus pengusaha ALI BABA di awal order baru, Haji Ma’shoem merupakan sedikit dari kalangan pribumi muslim yang bisa bersaing dengan tetap menjaga harkat dan martabatnya. Ketika etika bisnis baru diwacanakan dan dibahas di kuliah-kuliah ITB akhir 90-an, beliau adalah contoh nyata yang telah mempraktikkannya berpuluh-puluh tahun sebelumnya, di kultur Indonesia yang nyata.

Bisnis adalah ibadah, dengan berbisnis akan bisa membantu banyak orang. Mungkin itulah filosofi paling mendasar mengapa beliau sukses bisnis, keluarga dan sosial. Ini exact, sunnatullah, karena Rasulullah SAW pernah bersabda: “Sebaik-baik mukmin adalah yang paling banyak memberikan manfaat kepada sesamanya”.

Semoga bisa berlanjut….