Tugas Akhir terkait Enterprise Architecture

Catatan kecil dari perkuliahan di Telkom University:

****

Apa yang harusnya Anda dapat jika mengambil topik EA? Ini pertanyaan penting sehingga bagi yang mengambil topik EA harus perhatikan sejak awal. Sehingga tidak sekedar lulus tapi tak dapat sesuatu yang berharga dari pelaksanaan TA.

Read more of this post

Advertisements

Menemukan topik penelitian (2)

Tulisan ini lebih dikhususkan bagaimana menjalin komunikasi dengan peneliti-peneliti di berbagai tempat, dalam rangka menemukan topik penelitian kita sendiri. Di tulisan pertama sudah saya sampaikan tentang tantangan orang S3 di Indonesia, sehingga ada anekdot seperti ini: “Di sana orang dibayar untuk membaca paper, sedangkan di sini orang harus membayar agar bisa membaca paper”.

Berapakah paper yang harus dibaca oleh seorang kandidat doktor? Satu promotor saya mengatakan minimal 300 paper, kalau S2 minimal 100 paper. Paper-paper itu tentu saja yang inline dengan topik penelitian kita. Nah di sinilah seni meneliti itu dimulai. Indikator bahwa penelitian kita sudah masuk ke track yg benar adalah kalau kita sudah bingung: ke utara, ke selatan, ke barat dan ke timur mentok karena ternyata sudah ada yang mengerjakan topik itu. Untuk sampai titik ini memang harus banyak membaca, kemudian berani menyempitkan dan semakin menyempitkan topik penelitian kita, sampai akhirnya kita hanya mendapatkan beberapa paper yang menjadi state-of-the-art di sudut yang kita selami itu.

Jika sudah sampai titik tersebut, maka melakukan komunikasi dengan penulis-penulis paper state-of-the-art itu akan sangat membantu untuk keluar dari kebingungan dan mencapai tahap “EUREKA!!”, yaitu insipirasi baru sebuah celah penelitian yang dapat memperbaiki usulan-usulan yang ada.

Topik yang saya lakukan penelitian saat itu adalah ttg metoda analisa risiko keamanan informasi. Ada banyak metodologi dan standar untuk bidang itu. Saya persempit lagi di metodologi-metodologi yang sudah mempertimbangkan dependensi aset, dengan pertimbangan bahwa metodologi yang sudah mempertimbangkan dependensi aset memiliki kelebihan dalam menyatakan model bisnis dan model nilai aset. Untuk mendapatkan ide ttg dependensi aset, itu perjalanan lumayan panjang dengan sebelumnya mendalami satu persatu seluruh metodologi yang ada, kemudian coba memilah-milah apa yang sama dan apa yang tidak sama. Lama sekali saya di titik ini. Karena background saya di IT Audit, suatu hari saat saya membaca paper ttg salah satu metodologi di sana baru ada yg mengungkapkan ttg teori dependensi aset ini. Wahh… itulah satu tahapan saya mempersempit topik penelitian pada metodologi yang hanya mempertimbangkan dependensi aset. Yg pasti kalau nanti ditanya mengapa hanya dibatasi pada metodologi yang mempertimbangkan dependensi aset, saya punya argumentasi yang kuat.

Selanjutnya saya lebih konsentrasi untuk membuat taksonomi lagi di metodologi yang mempertimbangkan dependensi aset. Ternyata memang tak banyak, tak lebih dari 5. Itu artinya, di situ celahnya masih banyak karena masih sedikit yang mengerjakannya. Dari situ semangat tambah lebih besar lagi. Tapi mentok lagi, apa lagi yang bisa diperbaiki dari yang sudah ada ini?

Sampai titik itu kemudian saya mulai berkomunikasi intensif, salah satunya ke seorang peneliti di pusat penelitian security di Austria. Biar komunikasinya agak keren, saya analisa dulu seluruh paper yang dia sudah publikasi, apa kelebihan dan kekurangannya. Dari situ saya mulai email dia. Dan tanggapannya sungguh enak, mungkin dia menilai saya nggak blank banget. Satu bulan, dua bulan dan bulan ketiga saya sudah bisa memberikan argumentasi yang lebih kuat ttg penilaian saya. Bahkan setelah itu dia mau mengirim disertasi dia yang tidak bisa didownload bebas seperti papernya yg lain. Dan terakhir dia malah menawarkan join paper di topik yang saya usulkan.

Pelajaran dari sini, untuk penelitian S3 harus berani memilih fokus yang sempit dan memulai komunikasi dengan berbagai pihak yang sedang atau sudah meneliti di fokus yang kita pilih itu. Dunia akademis memiliki kulturnya sendiri, yaitu keterbukaan dan menghargai karya orang lain. Percaya diri memulai komunikasi dengan berbagai peneliti di berbagai tempat akan mempercepat menemukan topik pilihan, dibandingkan hanya membaca paper-papernya.

Menemukan topik penelitian (1)

Menemukan topik penelitian yang benar-benar pas adalah tantangan terbesar pertama mahasiswa S3. Topik penelitian yang pas memerlukan research-paper yang intensif, sehingga sampai pada sebuah titik yaitu bagaimana posisi riset kita dalam belantara riset yang sungguh luas itu. Tahapan research-paper ini menghasilkan taksonomi riset-riset terkait dalam bidang yang kita selami, analisa kelebihan dan kekurasanan masing-masing kelompok dalam taksonomi dan bagaimana posisi riset kita pada taksonomi besar itu.

Seorang pembimbing pernah mengatakan, idealnya tahapan ini harus sudah diselesaikan pada tahun pertama penelitian S3, sehingga 2 tahun berikutnya benar-benar fokus memformulasikan apa yang baru melalui riset kita dan bagaimana membuktikannya.

Bagi saya yang mengambil S3 di Indonesia, tantangan terbesar dari tahapan ini adalah minimnya sumberdaya pendukung. Sumberdaya pendukung utama untuk melalui tahapan ini adalah akses kepada jurnal-jurnal terkini dan terkemuka di bidang yang kita minati. Nah di sini masalahnya. Tak banyak universitas di Indonesia yang serius memberikan fasilitas ini kepada mahasiswanya. Akhirnya mahasiswa terpaksa harus kontak teman-temannya di berbagai universitas di luar negeri sana, yang kebetulan punya akses kepada jurnal-jurnal tersebut. Kalau tidak, ya urunan sama teman-teman di lab kemudian pakai akses bersama-sama.

Tantangan terbesar kedua adalah bidang fokus promotor. Idealnya dosen-dosen yang telah berkarya internasional itulah yang dijadikan promotor. Kalau tidak di bidang utamanya, minimal di bidang yang pada sesuatu yang akan kita bangun para promotor itu memiliki spesialisasi kelas dunia. Plus berkomunikasi intens dengan orang-orang yang memiliki paper-paper utama di track yang sama dengan yang kita lalui.

Akan dilanjutkan di tulisan berikutnya.

Riset vs Mroyek

Cuma ada satu perbedaan antara S3 di Indonesia dan negara yang sudah mapan kultur risetnya (jepang, USA, eropa, singapore): Kalau di sana itu kita dibayar untuk mbaca jurnal ilmiah, kalau di sini kita harus membayar untuk bisa baca jurnal ilmiah yang bermutu. Hehe… itu anekdot saya dan temen-temen di lab, tak sepenuhnya betul…

Saya punya kewajiban riset di kampus, tapi juga terpaksa harus tetap mroyek agar dapur tetap ngepul. Selain alasan finansial, proyek-proyek konsultansi juga akan memberikan pengalaman praktis yang tak didapat di lab, tapi ya itu… jadinya riset sering dijadikan korban. Akhirnya, progress riset mpot-mpotan… Pembimbing semakin intensif saja nagihnya, disertai dengan “sms cinta” rutin….

Tapi kalau melihat teman yang pernah di posisi seperti ini (thx Mas Ndung..), memang banyak kontradiktifnya antara Riset dan Mroyek itu: WAKTU ITU TERBATAS, SWITCHING KONSENTRASI ITU SANGAT TIDAK MUDAH UNTUK DUA HAL YANG TIDAK INLINE, IDE-IDE GENUINE RISET HANYA MUNCUL JIKA KITA ON THE STREAM, DAN TERNYATA ON THE STREAM ITU PADA PRAKTEKNYA MEMBUTUHKAN WAKTU YANG INTENSIF.

Memang harus mencutikan diri ya…..