Suatu saat saya mengingatkan anak kedua yang baru 4 tahun, “Mas, sholat kok nggak wudlu to?”. Dia njawab dengan santai, “Kalau wudlu nanti bisa batal bah”. Maksudnya, kalau wudlu dan buang angin ketika sholat maka harus wudlu lagi. Saya dan istri tertawa ngakak mendengar jawabannya.
Saya langsung teringat satu cerita yang pernah saya sampaikan kepada dia dan kakaknya yang 7 tahun. Cerita tentang Kabayan. Suatu saat Kabayan sholat jamaah di masjid. Ketika sedang sholat, dari knalpot kabayan terdengar bunyi CESSSSS dan kemudian tercium bau menyengat. Teman yang di samping Kabayan kemudian ngomong,”Kabayan, batal sholat kamu. Kamu kan kentut”. Kabayan menjawab santai, “Nggak, nggak batal. Orang.. saya nggak wudlu kok”.
Dasar kabayan!!!
***
Tak disangka, cerita itu dibalikkan ke kami waktu menyuruhnya sholat. Insight: Hati-hati cerita ke anak. Bisa jadi senjata balik ke orang tua
Tapi sebenarnya cerita itu metoda yang menyenangkan buat anak-anak. Banyak sekali yang bisa distimulasi dari cerita ini. Saya koleksi cerita abu nawas, nashruddin, kabayan dan yang sejenisnya. Kreatifitas bisa ditumbuhkan dengan cerita-cerita nyleneh dari Abu Nawas, intinya bagaimana tetap banyak akal, tetapi jangan ngakalin orang. Itu penting….
Sekarang lagi buat kurikulum cerita, biar ceritanya lebih sistematis dan lebih banyak yang bisa ditanamkan ke anak. Berdasarkan pengalaman, anak itu paling suka yang lucu dan aneh. Itu pintu masuk yang disukai anak-anak, setelah itu bisa ditumpangi apa saja. Tapi ada juga cerita yg nggak lucu tapi menarik anak, tapi harus pintar buat judul yang membuat anak penasaran. Kadangkala cerita dulu setengah kemudian ditinggal dulu, malah bikin penasaran.