Berita di bawah ini menarik untuk dibicarakan:
Fakta yang ada, sistem tersebut tidak dapat mendeliver value yang seharusnya. Value dapat diartikan dipenuhinya fungsi akurasi informasi, ketepatan proses dan ketepatan waktu. Informasinya akurat, tetapi waktunya molor, maka itu tak bisa dikatakan value tercipta dengan memadai, apalagi sudah telat ditambah informasinya yang tak akurat.
Dalam filosofi audit TI/SI, value itu itu direpresentasikan dengan 4 kriteria: keselarasan sistem TI dengan agenda bisnis, ketercapaian obyektif bisnis secara maksimal, pengelolaan sumberdaya TI yang efisien dan pengelolaan risiko yang memadai (ISACA). Jika ditinjau lebih mendalam sistem PPDB DKI tersebut, susah untuk dikatakan goal ini tercapai.
Apa yang menyebabkan hal ini bisa terjadi?
Kalau kita balik lagi ke filosofi audit TI/SI, maka pertanyaan utama adalah: APAKAH KONTROL ATAS PPDB DKI ITU MEMADAI? Kontrol ini mencakup apa yang terimplementasi dalam sistem aplikasi (application control) atau kontrol yang yang terimplementasi pada sumberdaya yang mendukung sistem aplikasi tersebut (database, sistem operasi, hardware, network). Technical control yang terimplementasikan pada sistem TI biasanya tak optimal kalau cara mengimplementasikan atau mengembangkannya tidak tepat. Sebagai permisalan, apakah sistem PPDB DKI itu sebelum dilauch ke production sudah melewati tahapan testing yang tepat? Ambillah satu tipe testing di sini: STRESS TEST. Apakah ketika testing sudah diuji akan kuat menghandle sekian hit dalam waktu bersamaan? Ini hanya satu pertanyaan saja dari sekian banyak kemungkinan pertanyaan yang dapat digunakan untuk mengaudit fenomena seperti ini.
Ah, semoga “lekas sembuh” saja. Saya coba memahami perasaan adik-adik yang sedang kebat-kebit sekarang ini, dan para orang tuanya tentu saja. Saat ini adik ipar yang paling bungsu mengalami proses ini, walaupun bukan di DKI.