SABTU 2 Agustus. Rapat pengurus YPM Salman baru saja usai setengah jam sebelumnya. Tiba-tiba sms masuk ke beberapa telepon genggam pengurus dan manajer Salman. Isinya: Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun. Telah meninggal dunia Bang Imad, di Kampung Bulak Klender, Jakarta pagi ini pukul 9.00.
Berita ini diterima antara percaya dan tidak. Percaya karena memang Bang Imad sudah lama sakit. Beliau sudah lama terkena stroke. Malah, tahun 1984 Bang Imad pernah kena serangan jantung, ketika masih menyusun disertasinya di Amerika. Tidak percaya, karena kita sebagai manusia kerap tidak ingin ditinggal orang yang dicintai.
Konfirmasi demi konfirmasi dilakukan oleh manajer di Salman. Dan toh, berita itu benar adanya. Innalillahi wa inna ilaihi roojiuun. Tokoh yang nama lengkapnya Dr. Ir. H. Muhammad Imaduddin Abdulrahim MSc itu memang sudah berpulang di usianya yang ke-77. Almarhum dilahirkan di Tanjungpura, Langkat Sumatera Utara pada 21 April 1931, bertepatan dengan tanggal 3 Dzulhijjah 1349 H. Ia adalah anak ke-7 dari 14 bersaudara. Ayahnya adalah Haji Abdulrahim, seorang tokoh Masyumi setempat. Ibunya, Syaifiatul Akmal.
Sejak SMA, Bang Imad aktif di Pelajar Islam Indonesia (PII). Ia pun pernah aktif di Hizbullah, dan pernah mendapatkan pangkat kapten. Cita-citanya adalah menjadi seorang dokter. Namun, suatu hari Wakil Presiden Mohammad Hatta meresmikan Bendungan Asahan. Hatta bercerita bahwa Bangsa Indonesia memerlukan banyak insinyur. Sejak itulah cita-cita menjadi dokter itu dibelokkan oleh Hatta. Maka, Imaduddin pun mengikuti tes ke ITB, dan diterima di Departemen Elektro.
Selama mahasiswa, Imaduddin ikut aktif mengupayakan pendirian Masjid Salman. Dia juga aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Bandung. Mendirikan sebuah masjid di kampus waktu itu adalah sebuah hal yang ganjil. Apalagi ketika itu ideologi Nasakom sedang kuat-kuatnya.
Tahun 1962, Imaduddin lulus dari ITB. Ayahnya, H. Abdulrahim, kemudian menyusul ke Bandung untuk meminta Imaduddin pulang ke Langkat. Pasalnya, ada permintaan dari perusahaan minyak di sana agar Imad menjadi tim insinyur di sana. Sebetulnya Imaduddin tidak ingin pulang. Ia ingin membangun Salman yang akan menjadi pusat dakwah strategis.
Tak sampai hati menolak permintaan sang bapak, Imaduddin kemudian meminta tolong Prof. TM Soelaiman untuk meyakinkan ayahandanya. Akhirnya, kepada H. Abdulrahim, Prof. Soelaiman mengatakan bahwa ia akan menjadikan Imad sebagai asisten dosen di Dept. Elektro. Selain itu, Pak TM Soelaiman akan menjadikan Imad sebagai motor pembangunan Salman, sekaligus motor dakwahnya. Sebagai tokoh yang berlatar belakang agama yang kuat, H. Abdulrahim pun merelakan anaknya untuk tetap di Bandung. Dia ikhlas anaknya melakukan dakwah.
Imaduddin memang tokoh yang tegas dan konsisten. Penafsirannya tentang konsep tauhid mengguncangkan semua pihak. Pemikirannya dia tuangkan dalam buku Kuliah Tauhid. Bagi dia, kecintaan seseorang yang melebihi kecintaanya terhadap Allah, adalah sebuah bentuk kemusyrikan. Kecintaan berlebih terhadap kekuasaan adalah juga sebuah kemusyrikan. Atas ceramahnya yang tegas dan “keras” ini, pemerintah Orde Baru pimpinan Soeharto merasa gerah.
Suatu hari, Pangkokamtib Laksamana Soedomo mendapat jalan untuk menangkap Imaduddin. Saat itu, Imaduddin berceramah di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Imaduddin mengatakan, mempersiapkan kuburan pada saat dia belum mati, adalah syirik. Imad tidak menyebut satu nama pun dalam ceramahnya. Namun publik sudah tahu, saat itu Soeharto sedang membangun istana dan makam di Giribangun Yogyakarta.
Dua hari kemudian, tepatnya pada 23 Mei 1978, sesaat setelah keluar dari Masjid Salman setelah memberikan kuliah subuh, Imaduddin didatangi beberapa orang berpakaian preman. Ternyata mereka itu adalah tentara yang ditugaskan Soedomo untuk menangkap Imaduddin.
Adalah Rektor ITB, Prof Dodi Tisna Amijaya yang sangat sayang kepada Bang Imad. Pak Dodi membujuk Soedomo untuk membebaskan Imad. Pak Dodi mengatakan, Imaduddin bukan orang berbahaya karena dia tidak aktif di organisasi politik. Dia hanyalah seorang pendakwah. Kepada Soedomo Dodi mengusulkan agar Imaduddin dikirim saja ke luar negeri untuk menempuh S3.
Soedomo berhasil diyakinkan Dodi. Empat belas bulan setelah penahanannya, atau 21 Juli 1979 Imad menghirup udara segar. (Untuk satu hal ini, Imaduddin tidak akan pernah lupa jasa Pak Dodi. Bahkan ketika Dodi meninggal, Imaduddin yang selama ini pantang menangis, ternyata tak mampu menahan kesedihannya. Dia menagisi kepergian Pak Dodi). Namun, untuk studi keluar negeri harus ada izin dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, yang ketika itu dijabat Daoed Joesoef. Sayang, Daoed yang berbeda secara ideologis dengan Imaduddin tidak memberikan izin.
Upaya untuk mengirim Imaduddin ke luar negeri menemui titik terang. Almarhum mantan PM Muhammad Natsir kemudian mengirim surat kepada Menteri Pendidikan Arab Saudi Syeikh Hasan Ali Syeikh. Natsir meminta agar Syeikh Hasan mengupayakan bea siswa dari kerajaan Saudi melalui King Fahd Foundation. sayang usia Imad sudah melebihi usia persyaratan penerima bea siswa. Namun Syeikh Hasan kemudian mengangkat Imad sebagai dosen di Universitas Abdul Aziz, Jedah. Dengan jalan seperti itu akhirnya Bang Imad mendapatkan bea siswa belajar ke Amerika, di Iowa State University.
Keberangkatannya ke AS justru menambah luas cakrawala dakwahnya. Dia aktif menjadi pengurus Muslim Student Association for US and Canada, International Islamic Federation of Student Organization (IFFSO), World Assembly of Muslim Youth, dan lain-lain. Ketegasannya terhadap tauhid menjadikan dia dijuluki sebagai seorang radical monotheist. Dia kerap dituduh sebagai anti budaya. Padahal bukan.
Bagi Imad, rekonstrusi masa depan umaat tidak saja hanya dilakukan melalui pemikiran keislaman, akan tetapi juga pada pemikiran iptek, sosial dan budaya. Namun semuanya itu harus diawali dengan membenahi pemahaman tauhid.
Lama di luar negeri, di tanah air pun ada perubahan penting. Soeharto yang kehilangan sedikit dukungan dari militer, kemudian mendekati golonga Islam. Atas jaminan Menko Kesra Alamsyah Ratu Prawiranegara, Imad diminta pulang ke tanah air. Alamsyah mengutus menantu Hatta, Sri Edi Swasono untuk mengontak Imaduddin. Satu saja permintaan Alamsyah: “Jangan mengritik Soeharto. Urusan Benny Moerdani, akan ditangani saya,” begitu kata Alamsyah. Benny Moerdani adalah Panglima ABRI waktu itu, yang dikenal tidak suka kepada kelompok Islam. Tentu dia juga tidak akan pernah suka kepada Imaduddin.
Tahun 1986, Imaduddin pun pulang. Sayang statusnya sebagai seorang dosen di ITB sudah tidak ada. Imad sudah dipecat. Yang memecat adalah Dr. Tunggul Sirait. Imaduddin pun seperti kehilangan tempat berlabuh. Akhirnya, salah seorang murid dakwahnya, Hatta Rajasa kemudian memberikan ruangan di kantornya. Hatta sudah menjadi pengusaha sukses di bidang perminyakan.
Di Jakarta inilah Bang Imad yang seangkatan dengan Nurcholish Majid ini kemudian terus melakukan dakwah. Ia ikut mendirikan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Sampai Tuhan memanggil pulang, Imad adalah anggota Dewan Kehormatan ICMI. atas jasa-jasanya, pada 1999 Presiden B.J. Habibie menganugerahi Imaduddin Bintang Mahaputera Utama. Karena itu dia berhak dimakamkan di taman makam pahlawan. Sebetulnya keluarga tadinya akan memakamkan Imaduddin di pemakaman umum. Namun negara meminta jasadnya diistirahatkan di Taman makam Pahlawan Kalibata. Dan, yang menjadi inspektur upacara pemakaman adalah Hatta Rajasa, muridnya yang kemudian mejadi Menteri Sekretaris Negara.
Masih banyak dan panjang daftar kiprah dia di dalam dakwah. Namun kita kini bisa merasakan bahwa hasil kerja Imaduddin sudah terasa. Dulu orang sagat malu mengucap salam (assalamualaikum), sekarang orang akan malu jika tidak mengucap salam, menebar rahmat. Dulu pengguna jilbab akan dikucilkan, sekarang jilbab bisa dipakai dengan leluasa di sekolah, di birokrasi dan di manapun, tanpa ada tekanan. Dulu sangat tidak mungkin ada musola di kantor-kantor besar. Sekarang, akan terasa kurang lengkap jika kantor besar tidak menyediakan musola.
Sudah selesaikan kerja Bang Imad?
Belum. Imaduddin masih melihat belum ada konsistensi antara ajaran Islam dengan nilai-nilai Islam. Dia masih melihat banyak orang Islam melakukan korupsi dan kejahatan-kejahatan lainnya. Dia masih melihat orang Islam lengkap dengan simbol keislaman akan tetapi ahlaknya masih tidak mencerminkan simbolnya.
Imad malah melihat nilai-nilai Islam seperti anti korupsi, budaya antre dan lain-lain justru dipraktekkan di dunia barat. “In the west there is no muslim, but there is Islam. But here in Indonesia, there are many Muslims, but there is no Islam.!” (Di Barat, tidak ada muslim, tapi ada Islam. Tapi di Indonesia, banyak muslim tapi tidak ada Islam). Itu dia utarakan dalam sebuah ceramah di Salman, tidak lama setelah kepulangannya dari Amerika.
Kerja Bang Imad memang belum selesai. Itu adalah tugas kita selaku anak didiknya untuk mewujudkan Islam yang menjadi rahmat bagi alam semesta.***
Sumber: http://cybermosque.com/salman.php?menu=detail&id=9
