Feed on
Posts
Comments

Mengenang Bang Imad

SABTU 2 Agustus. Rapat pengurus YPM Salman baru saja usai setengah jam sebelumnya. Tiba-tiba sms masuk ke beberapa telepon genggam pengurus dan manajer Salman. Isinya: Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun. Telah meninggal dunia Bang Imad, di Kampung Bulak Klender, Jakarta pagi ini pukul 9.00.

Berita ini diterima antara percaya dan tidak. Percaya karena memang Bang Imad sudah lama sakit. Beliau sudah lama terkena stroke. Malah, tahun 1984 Bang Imad pernah kena serangan jantung, ketika masih menyusun disertasinya di Amerika. Tidak percaya, karena kita sebagai manusia kerap tidak ingin ditinggal orang yang dicintai.

Konfirmasi demi konfirmasi dilakukan oleh manajer di Salman. Dan toh, berita itu benar adanya. Innalillahi wa inna ilaihi roojiuun. Tokoh yang nama lengkapnya Dr. Ir. H. Muhammad Imaduddin Abdulrahim MSc itu memang sudah berpulang di usianya yang ke-77. Almarhum dilahirkan di Tanjungpura, Langkat Sumatera Utara pada 21 April 1931, bertepatan dengan tanggal 3 Dzulhijjah 1349 H. Ia adalah anak ke-7 dari 14 bersaudara. Ayahnya adalah Haji Abdulrahim, seorang tokoh Masyumi setempat. Ibunya, Syaifiatul Akmal.

Sejak SMA, Bang Imad aktif di Pelajar Islam Indonesia (PII). Ia pun pernah aktif di Hizbullah, dan pernah mendapatkan pangkat kapten. Cita-citanya adalah menjadi seorang dokter. Namun, suatu hari Wakil Presiden Mohammad Hatta meresmikan Bendungan Asahan. Hatta bercerita bahwa Bangsa Indonesia memerlukan banyak insinyur. Sejak itulah cita-cita menjadi dokter itu dibelokkan oleh Hatta. Maka, Imaduddin pun mengikuti tes ke ITB, dan diterima di Departemen Elektro.

Selama mahasiswa, Imaduddin ikut aktif mengupayakan pendirian Masjid Salman. Dia juga aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Bandung. Mendirikan sebuah masjid di kampus waktu itu adalah sebuah hal yang ganjil. Apalagi ketika itu ideologi Nasakom sedang kuat-kuatnya.

Tahun 1962, Imaduddin lulus dari ITB. Ayahnya, H. Abdulrahim, kemudian menyusul ke Bandung untuk meminta Imaduddin pulang ke Langkat. Pasalnya, ada permintaan dari perusahaan minyak di sana agar Imad menjadi tim insinyur di sana. Sebetulnya Imaduddin tidak ingin pulang. Ia ingin membangun Salman yang akan menjadi pusat dakwah strategis.

Tak sampai hati menolak permintaan sang bapak, Imaduddin kemudian meminta tolong Prof. TM Soelaiman untuk meyakinkan ayahandanya. Akhirnya, kepada H. Abdulrahim, Prof. Soelaiman mengatakan bahwa ia akan menjadikan Imad sebagai asisten dosen di Dept. Elektro. Selain itu, Pak TM Soelaiman akan menjadikan Imad sebagai motor pembangunan Salman, sekaligus motor dakwahnya. Sebagai tokoh yang berlatar belakang agama yang kuat, H. Abdulrahim pun merelakan anaknya untuk tetap di Bandung. Dia ikhlas anaknya melakukan dakwah.

Imaduddin memang tokoh yang tegas dan konsisten. Penafsirannya tentang konsep tauhid mengguncangkan semua pihak. Pemikirannya dia tuangkan dalam buku Kuliah Tauhid. Bagi dia, kecintaan seseorang yang melebihi kecintaanya terhadap Allah, adalah sebuah bentuk kemusyrikan. Kecintaan berlebih terhadap kekuasaan adalah juga sebuah kemusyrikan. Atas ceramahnya yang tegas dan “keras” ini, pemerintah Orde Baru pimpinan Soeharto merasa gerah.

Suatu hari, Pangkokamtib Laksamana Soedomo mendapat jalan untuk menangkap Imaduddin. Saat itu, Imaduddin berceramah di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Imaduddin mengatakan,  mempersiapkan kuburan pada saat dia belum mati, adalah syirik. Imad tidak menyebut satu nama pun dalam ceramahnya. Namun publik sudah tahu, saat itu Soeharto sedang membangun istana dan makam di Giribangun Yogyakarta.

Dua hari kemudian, tepatnya pada 23 Mei 1978, sesaat setelah keluar dari Masjid Salman setelah memberikan kuliah subuh, Imaduddin didatangi beberapa orang berpakaian preman. Ternyata mereka itu adalah tentara yang ditugaskan Soedomo untuk menangkap Imaduddin.

Adalah Rektor ITB, Prof Dodi Tisna Amijaya yang sangat sayang kepada Bang Imad. Pak Dodi membujuk Soedomo untuk membebaskan Imad. Pak Dodi mengatakan, Imaduddin bukan orang berbahaya karena dia tidak aktif di organisasi politik. Dia hanyalah seorang pendakwah. Kepada Soedomo Dodi mengusulkan agar Imaduddin dikirim saja ke luar negeri untuk menempuh S3.

Soedomo berhasil diyakinkan Dodi. Empat belas bulan setelah penahanannya, atau 21 Juli 1979 Imad menghirup udara segar. (Untuk satu hal ini, Imaduddin tidak akan pernah lupa jasa Pak Dodi. Bahkan ketika Dodi meninggal, Imaduddin yang selama ini pantang menangis, ternyata tak mampu menahan kesedihannya. Dia menagisi kepergian Pak Dodi). Namun, untuk studi keluar negeri harus ada izin dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, yang ketika itu dijabat Daoed Joesoef. Sayang, Daoed yang berbeda secara ideologis dengan Imaduddin tidak memberikan izin.

Upaya untuk mengirim Imaduddin ke luar negeri menemui titik terang. Almarhum mantan PM Muhammad Natsir kemudian mengirim surat kepada Menteri Pendidikan Arab Saudi Syeikh Hasan Ali Syeikh. Natsir meminta agar Syeikh Hasan mengupayakan bea siswa dari kerajaan Saudi melalui King Fahd Foundation. sayang usia Imad sudah melebihi usia persyaratan penerima bea siswa. Namun Syeikh Hasan kemudian mengangkat Imad sebagai dosen di Universitas Abdul Aziz, Jedah. Dengan jalan seperti itu akhirnya Bang Imad mendapatkan bea siswa belajar ke Amerika, di Iowa State University.

Keberangkatannya ke AS justru menambah luas cakrawala dakwahnya. Dia aktif menjadi pengurus Muslim Student Association for US and Canada, International Islamic Federation of Student Organization (IFFSO), World Assembly of Muslim Youth, dan lain-lain. Ketegasannya terhadap tauhid menjadikan dia dijuluki sebagai seorang radical monotheist. Dia kerap dituduh sebagai anti budaya. Padahal bukan.

Bagi Imad, rekonstrusi masa depan umaat tidak saja hanya dilakukan melalui pemikiran keislaman, akan tetapi juga pada pemikiran iptek, sosial dan budaya. Namun semuanya itu harus diawali dengan membenahi pemahaman tauhid.

Lama di luar negeri, di tanah air pun ada perubahan penting. Soeharto yang kehilangan sedikit dukungan dari militer, kemudian mendekati golonga Islam. Atas jaminan Menko Kesra Alamsyah Ratu Prawiranegara, Imad diminta pulang ke tanah air. Alamsyah mengutus menantu Hatta, Sri Edi Swasono untuk mengontak Imaduddin. Satu saja permintaan Alamsyah: “Jangan mengritik Soeharto. Urusan Benny Moerdani, akan ditangani saya,” begitu kata Alamsyah. Benny Moerdani adalah Panglima ABRI waktu itu, yang dikenal tidak suka kepada kelompok Islam. Tentu dia juga tidak akan pernah suka kepada Imaduddin.

Tahun 1986, Imaduddin pun pulang. Sayang statusnya sebagai seorang dosen di ITB sudah tidak ada. Imad sudah dipecat. Yang memecat adalah Dr. Tunggul Sirait. Imaduddin pun seperti kehilangan tempat berlabuh. Akhirnya, salah seorang murid dakwahnya, Hatta Rajasa kemudian memberikan ruangan di kantornya. Hatta sudah menjadi pengusaha sukses di bidang perminyakan.

Di Jakarta inilah Bang Imad yang seangkatan dengan Nurcholish Majid ini kemudian terus melakukan dakwah. Ia ikut mendirikan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Sampai Tuhan memanggil pulang, Imad adalah anggota Dewan Kehormatan ICMI. atas jasa-jasanya, pada 1999 Presiden B.J. Habibie menganugerahi Imaduddin Bintang Mahaputera Utama. Karena itu dia berhak dimakamkan di taman makam pahlawan. Sebetulnya keluarga tadinya akan memakamkan Imaduddin di pemakaman umum. Namun negara meminta jasadnya diistirahatkan di Taman makam Pahlawan Kalibata. Dan, yang menjadi inspektur upacara pemakaman adalah Hatta Rajasa, muridnya yang kemudian mejadi Menteri Sekretaris Negara.

Masih banyak dan panjang daftar kiprah dia di dalam dakwah. Namun kita kini bisa merasakan bahwa hasil kerja Imaduddin sudah terasa. Dulu orang sagat malu mengucap salam (assalamualaikum), sekarang orang akan malu jika tidak mengucap salam, menebar rahmat. Dulu pengguna jilbab akan dikucilkan, sekarang jilbab bisa dipakai dengan leluasa di sekolah, di birokrasi dan di manapun, tanpa ada tekanan. Dulu sangat tidak mungkin ada musola di kantor-kantor besar. Sekarang, akan terasa kurang lengkap jika kantor besar tidak menyediakan musola.

Sudah selesaikan kerja Bang Imad?

Belum. Imaduddin masih melihat belum ada konsistensi antara ajaran Islam dengan nilai-nilai Islam. Dia masih melihat banyak orang Islam melakukan korupsi dan kejahatan-kejahatan lainnya. Dia masih melihat orang Islam lengkap dengan simbol keislaman akan tetapi ahlaknya masih tidak mencerminkan simbolnya.

Imad malah melihat nilai-nilai Islam seperti anti korupsi, budaya antre dan lain-lain justru dipraktekkan di dunia barat. “In the west there is no muslim, but there is Islam. But here in Indonesia, there are many Muslims, but there is no Islam.!”  (Di Barat, tidak ada muslim, tapi ada Islam. Tapi di Indonesia, banyak muslim tapi tidak ada Islam). Itu dia utarakan dalam sebuah ceramah di Salman, tidak lama setelah kepulangannya dari Amerika.

Kerja Bang Imad memang belum selesai. Itu adalah tugas kita selaku anak didiknya untuk mewujudkan Islam yang menjadi rahmat bagi alam semesta.***

Sumber: http://cybermosque.com/salman.php?menu=detail&id=9

Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’iun

Bang Imad, sosok yang lebih saya kenal dari cerita daripada sekedar bertemu langsung, yang lewat buku Tauhidnya saya benar-benar tercerahkan, sabtu 2 Agustus telah berpulang ke hadirat Allah SWT. Memang sempat bertemu beberapa kali, tapi saat generasi saya di Salman, beliau sudah lumayan sepuh dan memang lebih banyak di jakarta. Bagi kami yang pernah di Masjid Salman ITB, sosok Bang Imad merupakan sosok yang sangat istimewa, guru yang mengispirasi.

Selain buku Tauhid dan Kuliah Islamnya, Bang Imad akan selalu dikenang sebagai salah satu orang perintis generasi Masjid Kampus di negeri ini, terutama lewat LMD (Latihan Mujahid Dakwah)-nya. Ribuan kader yang pernah bersentuhan dan terinspirasi oleh beliau, dan ribuan aktifitas dakwah yang terlahir dari kader-kader tersebut di dunia pendidikan, politik, media, ekonomi dan budaya. Walaupun sempat dipenjara, dicopot paksa PNS dosen ITB-nya dan dipaksa pergi dari negeri ini oleh rezim Orba, akhirnya negeri ini tetap menghargainya dengan Bintang Mahaputera, sebelum beliau mengakhiri perjalanannya di dunia fana ini.

Selamat Jalan Bang Imad, semoga Maghfirah dan Rahmat Allah SWT selalu menyertaimu. Amin.

Tak di Bandung, tak di Medan…. Listrik byar pet…

Di tengah-tengah ngejar deadline, sambil nahan kangen dengan keluarga di Bandung, listrik mati lagi Medan ini: Perumahan Tasbi II Medan. Ada yg sedikit membedakan antara mati listrik di Medan dan Bandung:

  1. Mati listrik di Medan durasinya relatif agak terprediksi, kalau mati magrib sd malam, kira-kira segini jam; kalau mati siang hari, segini jam… Itu kata Pak Tony yang menjaga rumah tempat saya numpang ini.
  2. Orang Medan jauh lebih berpengalaman menghadapi listrik mati, karena sudah jauh hari mengalaminya dibanding kami yang di Jawa. Jadi kadar nggerundelnya jauh di bawah kadar nggerundel orang Bandung. hehe…..
  3. Orang Bandung masih harus tersenyum: intensitas dan durasi mati listrik di Medan masih jauh lebih parah. Hehe…

Kapan ya yg seperti ini berakhir??? Akhir tahun depan kata JK, berarti 1.5 tahun lagi. Duh….

Riset vs Mroyek

Cuma ada satu perbedaan antara S3 di Indonesia dan negara yang sudah mapan kultur risetnya (jepang, USA, eropa, singapore): Kalau di sana itu kita dibayar untuk mbaca jurnal ilmiah, kalau di sini kita harus membayar untuk bisa baca jurnal ilmiah yang bermutu. Hehe… itu anekdot saya dan temen-temen di lab, tak sepenuhnya betul…

Saya punya kewajiban riset di kampus, tapi juga terpaksa harus tetap mroyek agar dapur tetap ngepul. Selain alasan finansial, proyek-proyek konsultansi juga akan memberikan pengalaman praktis yang tak didapat di lab, tapi ya itu… jadinya riset sering dijadikan korban. Akhirnya, progress riset mpot-mpotan… Pembimbing semakin intensif saja nagihnya, disertai dengan “sms cinta” rutin….

Tapi kalau melihat teman yang pernah di posisi seperti ini (thx Mas Ndung..), memang banyak kontradiktifnya antara Riset dan Mroyek itu: WAKTU ITU TERBATAS, SWITCHING KONSENTRASI ITU SANGAT TIDAK MUDAH UNTUK DUA HAL YANG TIDAK INLINE, IDE-IDE GENUINE RISET HANYA MUNCUL JIKA KITA ON THE STREAM, DAN TERNYATA ON THE STREAM ITU PADA PRAKTEKNYA MEMBUTUHKAN WAKTU YANG INTENSIF.

Memang harus mencutikan diri ya…..

Nasionalisme itu….

Sore ini, di acara Showbiz on Location Metro TV, selama 30 menit Alvin Adam memandu acara yang mengulas perjuangan Tim Elfa’s Singer di perlombaan internasional menyanyi di Graz Austria. Penyanyi-penyanyi senior Elfa’s Singer yang sudah malang melintang ikut memperkuat tim Indonesia, meninggalkan keluarga dan pekerjaan di tanah air. Latihan terus sampai jam-jam terakhir pentas. Pentas yang memukau dan dua kemenangan Grand Champion dapat diraih. Ketika seluruh kontingen Indonesia maju ke depan podium untuk menerima penghargaan dan menyanyikan INDONESIA RAYA, tak terasa ternyata ikut sembab juga mata ini. Ternyata nasionalisme itu indah…. Kalau saya hadir di sana saat itu, pasti lebih larut lagi….

Nasionalisme itu salah satu vitamin penyehat jiwa. Berkelompok sosial sampai ujungnya munculnya teori aristrokrasi atau Nation State adalah pengejewantahan naluri alamiah manusia akan kebutuhan sosialisasi. Kalau Tom Hanks dalam Cast Away menjadi begitu “gila” kelakuannya karena terpisah berbulan-bulan dengan manusia karena terdampar di pulau terpencil di Samudera Pasifik, itu dapat dimengerti dengan pendekatan ini.

Setelah acara di Metro TV ini, saya switch ke stasiun TVOne yang mengulas tentang perang gerilya Jenderal Soedirman, The Indonesian Greatest General untill today. Kalau Anda melihat acara tersebut (saat menulis ini saya sambil melihat TV), Anda pasti setuju dengan pendapat saya: berapa ikhlas, tabah, sabar dan kuatnya Jenderal Soedirman dan seluruh pejuang republik saat itu. Kelaparan dan sakit keras tak menghentikan beliau, selalu taat ibadah dan menjaga kebersihan jiwa sampai detik terakhir kehidupannya. Hebatnya beliau ini, kelembutannya adalah kekuatannya, setiap perselisihan antar laskar akan selesai dengan surat beliau. Mantan Guru Muhammadiyah, dan pemimpin Pandun Hizb Wathan, bahkan disebut sebagai kyai dan fatwa-fatwanya selalu bersandar pada ajaran Islam. Islam dan Nasionalisme, itulah menurut saya jadi sumber kekuatan Jenderal Soedirman. Semoga maghfirah dan rahmat Allah selalu tercurah untuk Jenderal Soedirman.

Kalau dulu Indonesia ini hadir secara syariat salah satunya dengan nasiolisme para pendahulu kita, kini kita butuh itu untuk bangkit kembali.

Medan, 3 Agustus 2008. Di tengah-tengah ngelembur kerjaan.

Kurang lebih 5 minggu lagi ramadhan. Rajab (bulan ini yg masih tersisa bbrp hari lagi) dan sya’ban adalah bulan yg dikhususkan Allah untuk persiapan Ramadhan. Tak ada bulan sedahsyat Ramadhan, sehingga Allah memberikan waktu 2 bulan sebelumnya kepada kita umat Islam. Sunnah Nabi untuk memperbanyak ibadah dan shaum di dua bulan ini, khususnya Sya’ban, sehingga dalam satu hadits, Rasulullah diceritakan tidak pernah shaum (di luar ramadhan), sebanyak yang beliau lakukan di bulan Sya’ban.

Banyak sekali hadits yang mengutarakan bagaimana persiapan ramadhan Rasulullah di bulan Rajab dan Sya’ban, ditambah dengan keutamaan ibadah di dua bulan pengantar Ramadhan ini. Ini artinya, ritme ideal ibadah di bulan ramadhan tidak mungkin tercipta secara tiba-tiba, perlu persiapan jauh-jauh hari. Idealnya sejak malam pertama ramadhan kita sudah merasakan nikmatnya shaum, nikmatnya tarawih, nikmatnya sholat malam, bukan minggu penyesuaian. Jadi optimal seluruh waktu yg kita dapat di bulan ramadhan.

“Puncak segala sesuatu adalah Islam. Barangsiapa yang masuk Islam,dia akan selamat; tiangnya adalah sholat dan puncaknya adalah jihad….” (HR Tirmidzi)

“Sesungguhnya akan terlepas ikatan-ikatan Islam satu per satu. Setiap kali ikatan lepas, manusia akan bergantung pada ikatan berikutnya; ikatan yang paling awal terlepas adalah hukum, dan yang terakhir adalah sholat” (HR Imam Ahmad dan Ibnu Hibban)

“Ciri yang membedakan seseorang dengan kekufuran adalah meninggalkan sholat.” (HR Muslim”

“Sesungguhnya yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah sholat. Apabila sholatnya beres, akan beres juga seluruh perilakunya, dan apabila sholatnya rusak, akan rusak pula segala perilakunya.” (HR Tabrani)

Ramadhan adalah bulan turunnya perintah Sholat. Membaca buku “Sudah Benarkan Sholatku?“  karya Pak Aam Amiruddin, ternyata jauh dari sempurna tata cara sholat saya, apalagi dari kualitas khusyu’. Semoga ramadhan ini Allah ijinkan kita perbaiki sholat kita, merasakan nikmatnya menghadap-Nya. Amin. Ya Allah, sampaikanlah kami di bulan Ramadhan.

6 jam di Hang Nadim

Hari ini ada agenda survey di Batam. Ini perjalanan pertama ke Batam. Menginjakkan kaki di Bandara Hang Nadim, kesannya memang langsung berbeda dengan bandara-bandara di Jawa: lebih simple, futuristik dan bersih. Cerita dari sopir taksi, kontraktornya dari korea. Yg membedakan lagi, keluar dari pintu keluar, langsung panorama perbukitan. Keluar dari bandara, langsung disergap jalan rapi dan lebar, kanan-kiri masih asri. Rasanya jauh lbh nyaman dibandingkan dengan perjalanan ke Cengkareng, penat rasanya kepala…

Cuma 3 jam saja survey, karena hanya konfirmasi desain. Jam 12 lbh sedikit sudah di bandara, padahal pesawat jam 18.15. Nunggu 6 jam di bandara!! Untunglah batere labtop masih bisa 2 jam, shg masih disambi kerja. Di ruang tunggu ada wifi dari telkom, free dan cepat. ALhamdulillah, menghemat dibanding harus pakai IM2 yg di bandara cuma bisa GPRS. Apa karena card vodafone-ku yg kuno?

Hand Nadim adalah nama satu raja melayu, begitu kata sopir taksi yg ngantar balik ke bandara. Dalam perjalanan ke Bandara ada danau yg katanya untuk tandon air bersih Batam, 1 dari 2 yg ada di Batam. Satunya lagi airnya katanya destilasi dari air laut.

Batam, see you at next week: my second flight to Batam.

Di jaman kehidupan Rasulullah ada seorang pengemis yahudi di madinah, yang selalu mengatakan kepada siapa pun yang di dekatnya agar tidak mendekati Muhammad, karena Muhammad adalah penyihir dan penipu. Hal ini dilakukannya selama bertahun-tahun sampai masa tuanya.

Apakah yang dilakukan Rasulullah?

Setiap hari selama di Madinah, Rasulullah selalu menyuapi makanan sang pengemis tersebut. Ini dilakukannya sampai beliau meninggal. Suatu hari Aisyah ra (istri beliau) mengatakan kepada Abu Bakar yang menjadi klalifah pertama, bahwa Rasulullah punya kebiasaan menyuapi pengemis tua tadi. Abu Bakar kemudian suatu hari berniat melanjutkan kebiasaan Rasulullah tadi. Tapi ketika Abu Bakar hendak menyuapi dengan tangannya, pengemis tadi menolaknya. Dia bilang caranya tidak seperti biasa yang memudahkannya.

Abu Bakar kemudian menceritakan bahwa yang menyuapi pengemis tadi selama ini adalah Rasulullah Muhammad SAW, dan sekarang beliau sudah wafat. Mendengar cerita Abu Bakar tersebut, maka menangislah pengemis tadi sejadi-jadinya.

Subhanallah, sungguh penyayang, lembut hati dan penyabar Rasulullah Muhammad SAW.

(Disadurkan kembali dari KLCBS - Dialog Jumat Republika)

Implementasi TI di sebuah perusahaan/organisasi ternyata juga mengalami siklus hidup seperti juga pertumbuhan organisasi: Pervasion - Consolidation - Control; diawali oleh popularisasi TI, selanjutnya konsolidasi sistem informasi dan selanjutnya adalah implementasi kontrol.

cpe-juli08.jpg

Salah satu kebutuhan di tahap konsolidasi adalah tumbuhnya kebutuhan akan pengambilan keputusan dan monitoring kinerja bisnis, yang diharapkan dapat disumbangkan oleh berbagai aplikasi bisnis yang dikembangkan sebelumnya secara terpisah. Di tahap kontrol, manajemen semakin membutuhkan jaminan kualitas/mutu dan keamanan dari layanan dan informasi.

Topik CPE bulan Juli 2008 berikut dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan kedewasaan implementasi TI:

17-18 Juli 2008 Audit TI Menggunakan COBIT: Studi Kasus Audit BCM, Audit Organisasi TI, Audit Sistem ERP dan Audit BPR
24-25 Juli 2008 Step-By-Step Approach Manajemen Risiko TI Bank Umum Dalam Rangka Kepatuhan atas PBI No. 19/15/PBI/2007
24-25 Juli 2008 Performance Dashboard: Bagaimana Solusi TI dapat Membantu Dalam Pengukuran, Monitoring dan Pengelolaan Kinerja Bisnis?

CPE Program dirancang sebagai forum saling bertukar perspektif pengembangan dan implementasi TI terkini yang selalu dikaitkan dengan konteks bisnis spesifik. CPE Program merupakan produk training Transforma Institute, satu entitas riset topik-topik IT Applied untuk berbagai konteks bisnis di Indonesia.

Buat rekan-rekan yang bisnis garmen, bulan-bulan gini sd lebaran nanti adalah masa panen dan tersenyum. REFANES yg ada di link blog saya ini alhamdulillah juga menikmati ini, walaupun masih terbatas karena kami pemain baru dengan kapital terbatas. Listrik bagi kami pemain home-based industry ini adalah makanan pokok, kalau listrik byar pet, byar pet pula produksi kami, kapasitas produksi semakin tak jelas. Mau beli genset, masih pikir-pikir dulu, penginnya tanya temen2 di Distribusi Jabar Banten: mau sampe kapan byar pet ini diperkirakan.

Ada masalah di Payton (kalau boiler sepertinya bisa cepatlah) dan supply batubara ke bbrp PLTU (ini yg blm jelas :( ). Cari informasi di website pln pusat, distribusi jabar-banten, tidak ada info sd kapan ini akan berlangsung. Cuma ada permintaan maaf saja dari Distribusi Jabar-Banten.

Kampus ITB pun sekarang lebih sering mati. 3 bulan lalu waktu mulai banyak ke medan, saya masih bisa tersenyum kecut kalau pusat kota di Medan byar pet, setidaknya rumah saya di Bandung tidak mengalami. Medan sudah sejak tahun lalu mengalami kayak gitu. Oalaaahhhh… ternyata sekarang malah lebih parah.

Semoga PLN lebih baik. Ayolah pren…..

Older Posts »